INTERAKSI MASYARAKAT DALAM FANATISME HABIB (STUDI KASUS MAJELIS TA'LIM SEMOGA AWET KABUPATEN TANGERANG)

Authors

  • Eka Lestari Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang

DOI:

https://doi.org/10.30993/jurnalkomunikan.v5i2.920

Keywords:

Interaksi simbolik, Fanatisme keagamaan, Habib, Konstruksi makna, Kohesi sosial

Abstract

Keberagaman keagamaan Indonesia menempatkan figur keturunan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai habib, pada posisi otoritas sosial dan spiritual yang khas. Penghormatan terhadap sosok habib kerap berkembang menjadi fanatisme, fenomena yang berlangsung berbeda-beda pada tiap komunitas. Penelitian ini mengkaji bagaimana masyarakat Majelis Ta'lim Semoga Awet di Kampung Bayur, Desa Lebak Wangi, Kabupaten Tangerang memaknai sosok habib dan bagaimana bentuk serta pola interaksi sosial mereka, baik verbal maupun nonverbal, dalam menyikapi fanatisme tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang berpijak pada paradigma konstruktivisme, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap enam informan yang merepresentasikan keragaman peran sosial dalam komunitas, kemudian dianalisis mengikuti model Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan teknik. Berpijak pada Teori Interaksi Simbolik George Herbert Mead, temuan menunjukkan bahwa pemaknaan masyarakat terhadap habib bertumpu pada tiga pilar yang saling menopang, yaitu nasab, kapasitas keilmuan, dan keteladanan akhlak, yang terbentuk melalui interaksi tatap muka maupun mediasi digital yang berulang. Sikap masyarakat dalam menyikapi fanatisme ini bergerak dalam spektrum dari pengikut yang sangat patuh (muhibbin) hingga sikap moderat dan kritis, namun kohesi sosial tetap terjaga melalui peran mediasi pengurus majelis dan sesepuh kampung. Penelitian ini juga menemukan adanya asimetri dalam konstruksi makna antara jamaah baru dan jamaah lama yang sebagian berseberangan dengan premis dialogis Blumer, sehingga menunjukkan perlunya perluasan teori interaksi simbolik ketika diterapkan pada simbol keagamaan yang bersifat sakral dan berbasis nasab.

Downloads

Published

11-09-2026